Jalur Kopi ”Bergerigi” Di Lereng Telomoyo

By | November 9, 2016

JALUR kereta api berpenampang gerigi, antara Stasiun Jambu dan Stasiun Bedono, di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, bukan cuma langka karena hanya dimiliki tiga negara di dunia. Rel itu juga jadi saksi jejak sejarah perdagangan hasil bumi di perbukitan Kedu utara. Kini, jalur itu dihidupkan lagi guna memantik wisata sekaligus romansa.

“Tuuuut…tuuuut…tuuuut.” Suara klakson Si Boni, lokomotif uap buatan 1902, membelah sunyi perbukitan kopi, berpayung mendung bulan Oktober.

Belasan bocah berlarian di tepi rel mengiringi lokomotif yang mendorong dua gerbong kayu mendekati stasiun kuno Bedono itu. Pekerja kebun dan warga desa berhenti sejenak, melambaikan tangan, memekik girang. Suara klakson itu lama dirindukan.

”Tadi dengar suara kereta uap dari jauh. Saya langsung lari, kepengin lihat. Sudah lama enggak lewat sini lagi,” kata Wasriyanto (68), warga Desa Bedono, Kecamatan Jambu. Ia adalah pekerja kebun kopi Banaran, PT Perkebunan Nusantara IX.

Dua lokomotif uap seri B2502 dan B2503 itu sejak 1990-an diberi nama Si Boni dan Si Bobo oleh Kepala Stasiun Ambarawa saat itu.

Namun, bagi penduduk sekitar lereng Gunung Telomoyo, di perbatasan Kabupaten Semarang dan Magelang, kereta uap itu tak sekadar kereta wisata. Kereta ini puluhan tahun menopang urat nadi perekonomian warga yang sebagian bertani kopi dan cokelat.

Wasriyanto bercerita, sekitar 1960, kereta uap masih mengangkut hasil kopi dari perkebunan Banaran menuju Ambarawa, terus ke Semarang. Saat itu, jalan Magelang-Semarang belum sebagus sekarang. Anak seusianya acap kali menumpang kereta hingga Ambarawa lalu balik lagi ke Bedono.

Saat mengikuti perjalanan Si Boni dari Stasiun Ambarawa menuju Bedono, Kamis (27/10/2016), tersaji kekayaan alam lereng Telomoyo. Selepas Stasiun Ambarawa, setelah menyusuri permukiman di Desa Ngampin, tersaji hamparan sawah hijau. Di kejauhan tampak puncak Gunung Ungaran dan Gunung Merbabu menjulang.

Memasuki Stasiun Jambu, kereta sempat berhenti untuk langsir lokomotif. Lokomotif yang sebelumnya di depan menarik dua kereta kayu bermuatan 100 orang dipindah ke belakang. Posisinya mendorong gerbong karena akan memasuki jalur menanjak. Lokomotif akan kembali dipindah ke depan rangkaian saat turun ke arah Ambarawa.

Dari Stasiun Jambu, kereta berjalan melambat. Bunyi derit roda kereta beradu dengan rel besi, riuh memecah sunyi kebun kopi dan coklat.

Udara beranjak sejuk memasuki lereng Gunung Telomoyo setinggi 1.894 meter di atas permukaan laut (mdpl). Rumpun biji merah kopi menjadi teman perjalanan hingga memasuki Stasiun Bedono, yang dibangun 1873.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/08/161500027/jalur.kopi.bergerigi.di.lereng.telomoyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *